BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Maloklusi
1. Pengertian
Maloklusi
Maloklusi
adalah oklusi abnormal yang ditandai dengan tidak benarnya hubungan antar
lengkung di setiap bidang spatial
atau anomali abnormal dalam posisi gigi. Maloklusi adalah kondisi oklusi intercupsal dalam pertumbuhan gigi
diasumsikan sebagai kondisi yang tidak reguler. Keadaan ini dikenal dengan
istilah maloklusi tetapi batas antara oklusi normal dengan tidak normal
sebenarnya cukup tipis. Maloklusi sering pula tidak mengganggu fungsi gigi
secara signifikan dan termodifikasi pemakaian gigi (Santos, 1999).
Suatu
kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk
rongga mulut serta fungsi. Maloklusi terjadi pada
kondisi-kondisi berikut ini :
a.
Ketika
ada kebutuhan bagi subjek untuk melakukan posisi postural adaptif dari
mandibula.
b. Jika ada gerak menutup translokasi dari mandibula, dari posisi
istirahat atau dari posisi postural adaptif ke posisi intercupsal.
c. Jika posisi gigi adalah sedemikian
rupa sehingga terbentuk mekanisme refleks yang merugikan selama fungsi
pengunyahan dari mandibula.
d. Jika gigi-gigi menyebabkan kerusakan
pada jaringan lunak mulut.
e. Jika terdapat gigi berjejal atau
tidak teratur, yang bisa menjadi pemicu bagi terjadinya penyakit periodontal
dan gigi.
f. Jika terdapat penampilan pribadi
yang kurang baik akibat posisi gigi.
g. Jika terdapat posisi gigi yang
menghalangi fungsi bicara normal (Gross dan Mathews, 1991).
Maloklusi
adalah bentuk oklusi yang menyimpang dari bentuk standar yang diterima sebagai
bentuk normal. Maloklusi juga berarti kelainan ketika gigi geligi atas dan
bawah saling bertemu ketika menggigit atau mengunyah. Maloklusi dapat berupa
kondisi “bad bite” atau sebagai
kontak gigitan menyilang (crossbite), kontak
gigitan yang dalam (overbite), gigi
berjejal (crowded), gigitan menyilang (scissor bite) atau posisi gigi maju ke
depan (protrusi) (Daniel, 2000).
2. Etiologi
Maloklusi
Maloklusi tidak disebabkan oleh
satu faktor saja, tetapi ada beberapa faktor berbeda yang merupakan penyebabnya
yaitu, genetik dan lingkungan. Menurut Proffit (2001) secara umum maloklusi
disebabkan karena dua faktor yaitu faktor keadaan diluar gigi itu sendiri
(faktor ekstrinsik) dan faktor-faktor pada gigi (faktor intrinsik/ lokal).
Faktor ekstrinsik diantaranya
herediter, kelainan kongenital, perkembangan dan pertumbuhan yang salah pada
waktu prenatal dan postnatal, penyakit-penyakit sistemik yang menyebabkan
adanya kecenderungan kearah malokusi seperti: ketidakseimbangan kelenjar
endokrin, gangguan metabolisme, penyakit-penyakit infeksi, malnutrisi, serta
kebiasaan jelek, sikap tubuh yang salah dan trauma (Proffit, 2001).
Faktor intrinsik diantaranya
anomali jumlah gigi, terdiri dari adanya gigi berlebih (dens supernumerary teeth) dan tidak adanya gigi (anondontia). Anomali ukuran dan bentuk
gigi, frenulum labii yang tidak normal, kehilangan dini gigi desidui,
persistensi gigi desidui, terlambatnya erupsi gigi permanen, jalan erupsi yang
abnormal, ankilosis, karies gigi dan restorasi yang tidak baik (Proffit, 2001).
Etiologi dari maloklusi dapat
terbagi 2, yaitu :
a.
Primary etiology
site
Primary etiology site terbagi menjadi :
1) sistem neuromuscular
Beberapa pola kontraksi neuromuscular beradaptasi terhadap
ketidakseimbangan skeletal/ malposisi gigi. Pola-pola kontraksi yang tidak
seimbang adalah bagian penting dari hampir semua maloklusi.
2) tulang
Karena tulang muka, terutama maxilla
dan mandibula berfungsi sebagai dasar untuk dental
arch, kesalahan dalam marfologi/ pertumbuhannya dapat merubah hubungan dan
fungsi oklusi. Sebagian besar dari maloklusi yang sangat serius adalah membantu
dalam identifikasi dishamorni osseus.
3) gigi
Gigi adalah tempat utama dalam
etiologi dari kesalahan bentuk dentofacial
dalam berbagai macam cara. Variasi dalam ukuran, bentuk, jumlah dan posisi gigi
semua dapat menyebabkan maloklusi. Hal yang sering dilupakan adalah kemungkinan
bahwa malposisisi dapat menyebabkan malfungsi, secara tidak langsung malfungsi
merubah pertumbuhan tulang. Hal yang sering bermasalah adalah gigi yang terlalu
besar.
4) jaringan lunak (tidak termasuk otot)
Peran dari
jaringan lunak, selain neuromuscular
dalam etiologi maloklusi, dapat dilihat dengan jelas seperti tempat-tempat yang
didiskusi sebelumnya. Tetapi, maloklusi dapat disebabkan oleh penyakit
periodontal/ kehilangan perlekatan dan berbagai macam lesi jaringan lunak
termasuk struktur STM.
b.
Etiologi
Pendukung antara lain :
1) herediter
Herediter
telah lama dikenal sebagai penyebab maloklusi. Kesalahan asal genetik dapat
menyebabkan penampilan gigi sebelum lahir/ mereka tidak dapat dilihat sampai 6
tahun setelah kelahiran (contoh : pola erupsi gigi). Peran herediter dalam
pertumbuhan craniofacial dan etiologi
kesalahan bentuk dentalfacial telah
menjadi banyak subjek penelitian. Genetik gigi adalah kesamaan dalam keluarga
sangat sering terjadi tetapi jenis transmisi/ tempat aksi genetiknya tidak
diketahui kecuali pada beberapa kasus (contoh: absennya gigi/ penampilan
beberapa syndrome craniofacial).
2) perkembangan abnormal yang tidak
diketahui penyebabnya
Misalnya: deiferensiasi yang penting pada
perkembangan embrio. Contoh: facial cleft.
3) trauma
Baik trauma prenatal atau setelah
kelahiran dapat menyebabkan kerusakan atau kesalahan bentuk dentofacial.
a) prenatal trauma/ injuri semasa
kelahiran
(1) hipoplasia dari mandibula
terjadi
karena tekanan intrauterine
(kandungan) atau trauma selama proses kelahiran.
(2) asimetri
terjadi karena lutut atau kaki
menekan muka sehingga menyebabkan ketidaksimetrian pertumbuhan muka.
b) prostnatal trauma
(1) retak tulang rahang dan gigi
(2)
kebiasaan
dapat menyebabkan mikrotrauma dalam masa yang lama.
4) agen fisik
a) ekstraksi yang terlalu awal dari
gigi sulung.
b) makanan
Makanan
yang dapat menyebabkan stimulasi otot yang bekerja lebih dan peningkatan fungsi
gigi. Jenis makanan seperti ini menimbulkan karies yang lebih sedikit.
5) habbits
a) menghisap jempol / jari
Biasanya
pada usia tiga-empat tahun anak-anak mulai menghisap jempol jika molar kesatu
(M1) nya susah saat erupsi. Arah aplikasi tekanan terhadap gigi selama menghisap
jempol dapat menyebabkan Insisivus maksila terdorong ke labial, sementara otot
bukal mendesak tekanan lingual terhadap gigi pada segmen leteral dari lengkung
dental.
b) desakan lidah
Ada dua
tipe, yaitu :
(1)
simple tounge,
desakan lidah yang berhubungan dengan gigi pada saat menelan.
(2) kompleks tounge,
normalnya anak-anak menelan dengan gigi dalam oklusi bibir sedikit tertutup dan
lidah berada pada palatal di belakang gigi anterior. Simple tounge dihubungkan
dengan digital sucking walaupun kebiasaannya tidak lagi dilakukan karena perlunya
lidah untuk mendesak ke depan kearah open
bite untuk menjaga anterior seal
dengan bibir selama penelanan. Kompleks tounge dihubungkan dengan stress nasorespiratoty, bernapas dengan
mulut.
(3) lip
sucking and lip biting
lip
sucking and lip biting dapat
menyebabkan open bite, labioversi maksila/ mandibula
(terkadang), contohnya menggigit kuku.
6) penyakit
Penyakit
sistemik dapat mengakibatkan pengaruh pada kualitas gigi daripada kuantitas
pertumbuhan gigi.
a) gangguan endokrin
Disfungsi
endokrin saat prenatal bias berwujud dalam hipoplasia,
gangguan endokrin saat postnatal bias mengganggu tetapi biasanya tidak merusak/
merubah bentuk arah pertumbuhan muka. Hal ini dapat mempengaruhi erupsi gigi
dan resorpsi gigi sulung.
b) penyakit lokal
Penyakit
gingival periodontal dapat menyebabkan efek langsung seperti hilangnya gigi,
perubahan pola penutupan mandibula untuk mencegah trauma, ancylosis gigi.
7) malnutrisi
Berefek
pada kualitas jaringan dan kecepatan dari kalsifikasi (Santos, 1999).