Senin, 06 Mei 2013


  BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Maloklusi
1.    Pengertian Maloklusi
Maloklusi adalah oklusi abnormal yang ditandai dengan tidak benarnya hubungan antar lengkung di setiap bidang spatial atau anomali abnormal dalam posisi gigi. Maloklusi adalah kondisi oklusi intercupsal dalam pertumbuhan gigi diasumsikan sebagai kondisi yang tidak reguler. Keadaan ini dikenal dengan istilah maloklusi tetapi batas antara oklusi normal dengan tidak normal sebenarnya cukup tipis. Maloklusi sering pula tidak mengganggu fungsi gigi secara signifikan dan termodifikasi pemakaian gigi (Santos, 1999).
Suatu kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta fungsi. Maloklusi terjadi pada kondisi-kondisi berikut ini :
a.       Ketika ada kebutuhan bagi subjek untuk melakukan posisi postural adaptif dari mandibula.
b.      Jika ada gerak menutup translokasi dari mandibula, dari posisi istirahat atau dari posisi postural adaptif ke posisi intercupsal.
c.       Jika posisi gigi adalah sedemikian rupa sehingga terbentuk mekanisme refleks yang merugikan selama fungsi pengunyahan dari mandibula.
d.      Jika gigi-gigi menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak mulut.
e.       Jika terdapat gigi berjejal atau tidak teratur, yang bisa menjadi pemicu bagi terjadinya penyakit periodontal dan gigi.
f.       Jika terdapat penampilan pribadi yang kurang baik akibat posisi gigi.
g.      Jika terdapat posisi gigi yang menghalangi fungsi bicara normal (Gross dan Mathews, 1991).
Maloklusi adalah bentuk oklusi yang menyimpang dari bentuk standar yang diterima sebagai bentuk normal. Maloklusi juga berarti kelainan ketika gigi geligi atas dan bawah saling bertemu ketika menggigit atau mengunyah. Maloklusi dapat berupa kondisi “bad bite” atau sebagai kontak gigitan menyilang (crossbite), kontak gigitan yang dalam (overbite), gigi berjejal (crowded), gigitan menyilang (scissor bite) atau posisi gigi maju ke depan (protrusi) (Daniel, 2000).
2.    Etiologi Maloklusi
Maloklusi tidak disebabkan oleh satu faktor saja, tetapi ada beberapa faktor berbeda yang merupakan penyebabnya yaitu, genetik dan lingkungan. Menurut Proffit (2001) secara umum maloklusi disebabkan karena dua faktor yaitu faktor keadaan diluar gigi itu sendiri (faktor ekstrinsik) dan faktor-faktor pada gigi (faktor intrinsik/ lokal).
Faktor ekstrinsik diantaranya herediter, kelainan kongenital, perkembangan dan pertumbuhan yang salah pada waktu prenatal dan postnatal, penyakit-penyakit sistemik yang menyebabkan adanya kecenderungan kearah malokusi seperti: ketidakseimbangan kelenjar endokrin, gangguan metabolisme, penyakit-penyakit infeksi, malnutrisi, serta kebiasaan jelek, sikap tubuh yang salah dan trauma (Proffit, 2001).
Faktor intrinsik diantaranya anomali jumlah gigi, terdiri dari adanya gigi berlebih (dens supernumerary teeth) dan tidak adanya gigi (anondontia). Anomali ukuran dan bentuk gigi, frenulum labii yang tidak normal, kehilangan dini gigi desidui, persistensi gigi desidui, terlambatnya erupsi gigi permanen, jalan erupsi yang abnormal, ankilosis, karies gigi dan restorasi yang tidak baik (Proffit, 2001). Etiologi dari maloklusi dapat terbagi 2, yaitu :
a.       Primary etiology site
Primary etiology site terbagi menjadi :
1)      sistem neuromuscular
Beberapa pola kontraksi neuromuscular beradaptasi terhadap ketidakseimbangan skeletal/ malposisi gigi. Pola-pola kontraksi yang tidak seimbang adalah bagian penting dari hampir semua maloklusi.
2)      tulang
Karena tulang muka, terutama maxilla dan mandibula berfungsi sebagai dasar untuk dental arch, kesalahan dalam marfologi/ pertumbuhannya dapat merubah hubungan dan fungsi oklusi. Sebagian besar dari maloklusi yang sangat serius adalah membantu dalam identifikasi dishamorni osseus.
3)      gigi
Gigi adalah tempat utama dalam etiologi dari kesalahan bentuk dentofacial dalam berbagai macam cara. Variasi dalam ukuran, bentuk, jumlah dan posisi gigi semua dapat menyebabkan maloklusi. Hal yang sering dilupakan adalah kemungkinan bahwa malposisisi dapat menyebabkan malfungsi, secara tidak langsung malfungsi merubah pertumbuhan tulang. Hal yang sering bermasalah adalah gigi yang terlalu besar.
4)      jaringan lunak (tidak termasuk otot)
Peran dari jaringan lunak, selain neuromuscular dalam etiologi maloklusi, dapat dilihat dengan jelas seperti tempat-tempat yang didiskusi sebelumnya. Tetapi, maloklusi dapat disebabkan oleh penyakit periodontal/ kehilangan perlekatan dan berbagai macam lesi jaringan lunak termasuk struktur STM.
b.      Etiologi Pendukung antara lain :
1)      herediter
Herediter telah lama dikenal sebagai penyebab maloklusi. Kesalahan asal genetik dapat menyebabkan penampilan gigi sebelum lahir/ mereka tidak dapat dilihat sampai 6 tahun setelah kelahiran (contoh : pola erupsi gigi). Peran herediter dalam pertumbuhan craniofacial dan etiologi kesalahan bentuk dentalfacial telah menjadi banyak subjek penelitian. Genetik gigi adalah kesamaan dalam keluarga sangat sering terjadi tetapi jenis transmisi/ tempat aksi genetiknya tidak diketahui kecuali pada beberapa kasus (contoh: absennya gigi/ penampilan beberapa syndrome craniofacial).

2)      perkembangan abnormal yang tidak diketahui penyebabnya
Misalnya: deiferensiasi yang penting pada perkembangan embrio. Contoh:  facial cleft.
3)      trauma
Baik trauma prenatal atau setelah kelahiran dapat menyebabkan kerusakan atau kesalahan bentuk dentofacial.
a)    prenatal trauma/ injuri semasa kelahiran
(1)     hipoplasia dari mandibula
terjadi karena tekanan intrauterine (kandungan) atau trauma selama proses kelahiran.
(2)     asimetri
terjadi karena lutut atau kaki menekan muka sehingga menyebabkan ketidaksimetrian pertumbuhan muka.
b)   prostnatal trauma
(1)     retak tulang rahang dan gigi
(2)     kebiasaan dapat menyebabkan mikrotrauma dalam masa yang lama.
4)      agen fisik
a)      ekstraksi yang terlalu awal dari gigi sulung.
b)      makanan
Makanan yang dapat menyebabkan stimulasi otot yang bekerja lebih dan peningkatan fungsi gigi. Jenis makanan seperti ini menimbulkan karies yang lebih sedikit.

5)      habbits
a)      menghisap jempol / jari
Biasanya pada usia tiga-empat tahun anak-anak mulai menghisap jempol jika molar kesatu (M1) nya susah saat erupsi. Arah aplikasi tekanan terhadap gigi selama menghisap jempol dapat menyebabkan Insisivus maksila terdorong ke labial, sementara otot bukal mendesak tekanan lingual terhadap gigi pada segmen leteral dari lengkung dental.
b)      desakan lidah
Ada dua tipe, yaitu :
(1)   simple tounge, desakan lidah yang berhubungan dengan gigi pada saat menelan.
(2)   kompleks tounge, normalnya anak-anak menelan dengan gigi dalam oklusi bibir sedikit tertutup dan lidah berada pada palatal di belakang gigi anterior. Simple tounge dihubungkan dengan digital sucking walaupun kebiasaannya tidak lagi dilakukan karena perlunya lidah untuk mendesak ke depan kearah open bite untuk menjaga anterior seal dengan bibir selama penelanan. Kompleks tounge dihubungkan dengan stress nasorespiratoty, bernapas dengan mulut.



(3)   lip sucking and lip biting
lip sucking and lip biting dapat menyebabkan open bite, labioversi maksila/ mandibula (terkadang), contohnya menggigit kuku.
6)      penyakit
Penyakit sistemik dapat mengakibatkan pengaruh pada kualitas gigi daripada kuantitas pertumbuhan gigi.
a)      gangguan endokrin
Disfungsi endokrin saat prenatal bias berwujud dalam hipoplasia, gangguan endokrin saat postnatal bias mengganggu tetapi biasanya tidak merusak/ merubah bentuk arah pertumbuhan muka. Hal ini dapat mempengaruhi erupsi gigi dan resorpsi gigi sulung.
b)      penyakit lokal
Penyakit gingival periodontal dapat menyebabkan efek langsung seperti hilangnya gigi, perubahan pola penutupan mandibula untuk mencegah trauma, ancylosis gigi.
7)      malnutrisi
Berefek pada kualitas jaringan dan kecepatan dari kalsifikasi (Santos, 1999).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar